Bagaimana Berlibur Yang Sehat, Aman, Bermanfaat Di Tengah Pandemi Covid19

Bak Kota Mati yang biasanya ramai di jalan Asia Afrika Bandung
Jalan Asia Afrika Bandung di Masa PSBB Pandemi Covid19 tahun 2020

 

Enam bulan sudah kita semua warga planet bumi dilanda pandemi Covid19 atau yang kita kenal dengan Corona. Tagar #stayathome bergaung sejak bulan Maret 2020, diikuti dengan tindakan membatasi aktifitas sosial masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di negeri tercinta Indonesia. Tiga bulan bergulir sejak itu, para otoritas pemimpin negara pastinya terus mempelajari sebuah big data berkaitan wabah ini sebelum akhirnya menerbitkan kebijakan baru yaitu seperti yang kita kenal dengan istilah #NEWNORMAL atau dikita lebih dikenal dengan istilah ADAPTASI KEBIASAAN BARU.

Keputusan ini pastinya bukan dikeluarkan secara gegabah, apalagi menjerumuskan, pastinya telah melalui berbagai penelitian dan masukan dari para ahli. Intinya kegiatan masyarakat bisa tetap berjalan hanya saja harus memperhatikan protokol kesehatan untuk meminimalisir potensi terjadinya penularan. Ingat ya, MEMINIMALISIR, bukan MENGELIMINASI Resiko. Alhasil 3 bulan kebiasaan baru ini dilaksanakan di seluruh dunia, meskipun kurva aktif case diberbagai belahan dunia masih naik, tapi angka kematian cenderung menurun dan roda ekonomi bisa terus berputar meskipun melambat, ya daripada tidak sama sekali bisa beresiko chaos dimana-mana, runyam bukan.

Akhirnya, life must go on, ekonomi harus berputar, kita-kita yang masih usia produktif tidak bisa terus-terusan #stayathome. Kita-kita yang masih usia produktif dan sehat,  harus tetap produktif, tetap kerja, menjalani rutinitas, termasuk berlibur agar otak tetap fresh yg menunjang produktifitas. TAPI, tetap waspada, dengan menerapkan protokol kesehatan agar potensi penularan dapat ditekan seminim mungkin. 

 

Bersepeda di Pantai
Mendekat Dengan Alam Di Era Pandemi

 

WISATA ALAM RELATIF LEBIH AMAN

Wisata berbasis alam banyak dilirik orang di era pandemi ini, karena selain relatif lebih aman, alam juga menawarkan aneka petualangan dengan harga dari yang sangat murah sampai mahal sekalipun. Contohnya camping atau sekedar piknik ke alam terbuka nyaris bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. 

Kenapa wisata alam relatif lebih aman ? Ini sekedar logikaku loh ya, wisata alam menawarkan suasana outdoor dengan udara yang fresh tersirkulasi secara alami oleh alam. Selain itu sinar matahari baik secara langsung maupun tidak langsung akan mengurangi tingkat kelembaban. Dari yang ku baca, mikroba, virus, bakteri, dan kuman lainnya sangat menyukai area lembab loh, karena mereka membutuhkan substansi cairan untuk hidup. Dengan adanya kehadiran sinar matahari, otomatis para mikroba ini akan tersiksa dan mudah hancur karena kekeringan.

Jadi ? saya sih meyakini bahwa kegiatan outdoor jauh lebih rendah resikonya ketimbang kegiatan indoor. Tapi pasti akan ada yang berpendapat bahwa ini bukan jaminan loh ya. Iya betul, memang bukan jaminan, karena saat kita memilih untuk "LIFE MUST GO ON", maka tindakan yang bisa kita ambil adalah meminimalisir resiko bukan meng-eliminasinya.


Camping Di Alam Terbuka Banyak Diminmati di Era Pandemi Corona

JAUHI KERAMAIAN 

Semakin menjauh dari keramaian maka semakin rendah resiko. Coba deh kita lihat data-data statistik jumlah aktif case Covid19, rata-rata yang parah adalah Kota-kota besar metropolitan. Tapi di pedesaan ? Angkanya sangat-amat kecil. 

Melihat fakta kecilnya angka aktif case corona di pedesaan, tergelitik saya untuk sekedar menduga-duga apa yang menyebabkan kecilnya tingkat kematian di pedesaan akibat corona. Apakah corona belum sampai ke pedesaan ?  Ah saya kok gak percaya, melihat intensitas arus manusia hilir mudik yang sangat massive dengan infrastruktur jalan tol di pulau Jawa yang sudah terbentang dari barat ke timur, menghubungi pedesaan dengan perkotaan. Rasanya hampir tidak mungkin corona belum sampai ke desa. Fakta statistik jelas kok, sudah ada penderita corona di berbagai kecamatan terpencil.

Tapi yang membedakan dengan perkotaan ?  Jika di kota besar dalam waktu singkat, active case sudah berlipat ganda, bahkan berdistribusi eksponensial, tapi di pedesaan sepertinya kekuatan virus ini seperti teredam dan tidak meningkat drastis. Coba deh pantau angka-angka active case kota-kota kecil di daerah Jawa Barat Selatan, sudah hampir setengah tahun, angka nya tidak meningkat significan. Apakah karena mereka mentaati protokol kesehatan ?  Waduh Boro-boro haha, yang pakai masker saja sangat jarang ha ha... tapi jangan ditiru loh ya.

 

Sebaran Corona di Propinsi Jawa Barat per September 2020 (Sumber: PIKOBAR)

APAKAH PEDESAAN LEBIH KUAT MENGHADAPI SERANGAN CORONA ?

Apakah karena lalu lintas orang kota ke desa sangat jarang ?  Ngak juga, hampir tiap weekend ribuan orang kota mendatangi desa-desa wisata untuk sekedar berwisata. Bahkan disaat long weekend, hotel-hotelnya penuh sesak. Protokol Kesehatan ?  Masih alakadarnya sih kalo saya boleh jujur. Tapi tetep kok angka nya tidak meningkat setelah dihajar berkali kali dengan aliran manusia dari kota. Padahal kita tahu, istilah OTG / Orang tanpa gejala bisa menularkan meskipun kekuatannya tidak sebesar orang yg sedang sakit dengan gejala.

Sebagian orang pasti akan menjawab, "Itu karena di desa-desa tidak diadakan TEST secara berkala, baik Rapid maupun SWAB." Ya pastinya saya sependapat, oleh karena itu saya hanya berpatokan pada angka kematiannya, dan ternyata memang angka kematian akibat corona di kota-kota kecil bisa dibilang minim sekali mendekati nol, apalagi di desa-desa terpencil. 


Kehidupan Masyarakat Desa Yang Rata-rata Tubuhnya Aktif Bergerak Seharian

 

Lalu apa yang dapat saya simpulkan dari fakta-fakta ini ?  Secara Logika, ada 2 kemungkinan. Kemungkinan Pertama adalah Daya Tular Orang tanpa gejala yang datang dari Kota ke desa tidak terlalu kuat, yang Kedua adalah kemungkinan Orang-orang di pedesaan memiliki tubuh yang sehat, sehingga mereka hanya menjadi orang-orang tanpa gejala. Atau ya mungkin juga kombinasi keduanya menyebabkan pandemi ini tidak terlalu berimbas di daerah pedesaan.  Kita tahu kan orang di desa seperti apa, stress level rendah, bangun pagi, berjalan kaki, bersepeda, pergi ke pasar, berladang, bertani, pasokan gizi mereka lebih baik ketimbang orang kota yang hidup dengan stress, tidur tidak teratur, gizi buruk, gula tinggi, dll. Nah, ada benang merah bukan dengan istilah Komorbid ?  Iya komorbid adalah penyakit bawaan yang membuat penderita corona menghadapi situasi kritis. Penyakit-penyakit itu antara lain Diabetes, Kardiovaskular, dll yang sering di-istilahkan sebagai penyakit kota.

Anyway, jangan bully saya karena berpikiran seperti ini ya ?  Mari kita junjung tinggi kebebasan berpikir. Saya sama sekali tidak menganggap remeh pandemi ini, TETAPI juga tidak mau larut dalam ketakutan berlebihan seperti yang dialami banyak orang. Ada banyak teman saya mendadak menjadi sangat paranoid di era pandemi. Seakan-akan setiap benda asing yang ditemui mengandung virus berbahaya yang bisa membunuh kita dalam sekejap. Ini nyata loh, sebagai dampak dari arus informasi menakutkan yang mengalir deras setiap hari, setiap jam dan setiap menit memenuhi pikiran kita melalui applikasi sosial media dan messaging.

 

Tak Perlu Ke Restaurant Tapi Membeli Masakan dari Penduduk Tak Kalah Lezatnya

DENGAN BERLIBUR KITA SEHAT, SEGAR, DAN MEMUTAR RODA EKONOMI

Jadi ? Tetap waspada ya, patuhi protokol kesehatan, tetap produktif, dan juga tetap berlibur supaya pikiran tidak jenuh, jauh dari stress, otomatis imun kita akan optimal menghadapi berbagai kuman termasuk Covid19. Oh ya, dengan berlibur juga selain bermanfaat untuk kesehatan kita, juga kita berkontribusi terhadap perputaran roda ekonomi. 

Di masa pandemi, Ada banyak cara saya buat berlibur, sekedar trekking atau hiking atau bahkan tamasya ke daerah terpencil untuk beberapa hari. Untuk urusan menginap, saya lebih memilih menggunakan akomodasi homestay milik penduduk sekitar, dan menggunakan jasa mereka untuk memasak makanan, guiding jalan-jalan, dll. Ini lebih aman, karena kita jauh dari keramaian seperti Hotel, Restaurant, dll. Selain itu secara tak langsung pun kita telah membantu memutar roda perekonomian yang terancam stagnan karena pandemi ini.

Ada JOKES bilang, Keluar Mati kena Korona, tapi dirumah terus pun lama-lama gila. Ya pilihan ada ditangan anda, silahkan mengukur diri, bila anda termasuk dalam kategori high-risk ya sebaiknya anda tetap dirumah, tapi bila anda bukan termasuk kategori tersebut, Jangan takut berlibur ya teman-teman semua, pikiran kita pun perlu kita segarkan, TAPI tetep patuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak aman, dan hindari kerumunan orang banyak. 

Akhir kata saya tidak akan mengucapkan semoga semua ini cepat berlalu, tapi saya akan ucapkan MARI KITA BERADAPTASI, karena memang kenyataannya kita akan menghadapi ini untuk waktu yang lumayan lama, oleh karena itu mari kita mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru, tetap beraktifitas dengan mematuhi protokol kesehatan. Seandainya kita semua mematuhi protokol kesehatan, niscaya pandemi ini akan selalu terkendali, dan kita tetap bisa beraktifitas seperti biasanya.


Tetap Berfikir Positif, Salam SEHAT !

Komentar

TULISAN LAINNYA

Ada apa di Kabupaten Fakfak Papua Barat ?

Jasa Fotografi & Video Ditawar sadis, berapa sih harga yang wajar ?

Mengintip dan Membandingkan Spesifikasi Drone DJI Mavic Air